Rabu, 26 Juni 2013

Antropometri dan Ergonomi

Antropometri dan Ergonomi dalam Perancangan Arsitektur-Interior

Antropometri dan Ergonomi 

Human Dimension
Dalam pengertian yang sederhana, Antropometri adalah ilmu mengenai variasi ukuran dari bagian-bagian tubuh manusia, yang selanjutnya berfungsi sebagai data atau informasi, dalam kaitan kemampuan dari dimensi dan fungsi gerak bagian-bagian tubuh manusia dalam keadaan diam/statis, maupun dalam keadaan bergerak/dinamis.
Ergonomi adalah ilmu mengenai kaidah atau batas-batas kemampuan penyesuaian  interaksi manusia secara fisik dan non-fisik dengan elemen-elemen lain dalam lingkungannya sebagai suatu komponen dalam suatu kegiatan atau sistem kerja, dalam mencapai taraf keamanan dan kenyamanan yang disyaratkan ( teknologi perancangan kerja ).

Antropometri dan Ergonomi Sekilas dalam Sejarah

vitruvius
Mengetahui dan memahami ilmu antropometric dan ergonomic, tidak bisa terlepas begitu saja dari upaya-upaya para filsuf, seniman, ahli teori dan matematika untuk mengenal dan mengetahui proporsi dan ukuran dari bagian-bagian tubuh manusia, seperti salah satunya adalah Marcus Vitruvius Pollio, seorang penulis sekaligus arsitek, kelahiran Fundy, Campania, Italia. Risalah arsitekturnya, De Architectura, Ten Books of Architecture, ditulis sekitar 20-30 SM, yang masih berlaku dan digunakan hingga saat ini.  


Dalam pemahamannya mengenai tubuh manusia, Vitruvius memandang susunan ataupun keterkaitan bagian-bagian tubuh manusia satu sama lainnya, bukanlah semata-mata susunan bentuk yang proporsional saja, melainkan lebih dari itu, ukuran-ukuran dari bagian tubuh yang proporsional tersebut menjadi dasar dari ukuran-ukuran proporsional pada sebuah bangunan ( dampak metrology ), seperti rancangan kuil Yunani yang merupakan kumpulan dari bagian-bagian tubuh manusia yang proporsional, menurut Vitruvius, desain seorang arsitek harus mengacu pada kesempurnaan simetri tubuh dan proporsi. 
“If nature has composed the human body so that in its proportions the seperate individual elements answer to the total form, then the Ancients seem to have had reason to decide that bringing their creations to full completion likewise required a correspondence bewteen the measure of individual elements and the appearance of the work as a whole.”
― Vitruvius
Architecture
Ancient Greek
Vitruvius percaya bahwa seorang arsitek harus fokus pada tiga tema sentral ketika mempersiapkan desain untuk bangunan: Firmitas (kekuatan), utilitas (fungsi), dan Venustas (keindahan), dan bahwa proporsi tubuh manusia dapat digunakan sebagai model kesempurnaan proporsional yang alami. Maka suatu bangunan adalah mencerminkan keharmonisan, dan keindahan. Di abad pertengahan, norma-norma Vitruvian-pun berkumandang kembali melalui tangan pelukis terkenal, Leonardo Da Vinci yang menciptakan gambar “Human Figure” yang terkenal dengan, “Vitruvian Man” karena berdasar pada definisi dari norma-norma yang dikembangkan oleh Vitruvius.
Leonardo Da Vinci

The Golden Section

The Divine Proportion
Pada awal abad-16 Luca Paccoli, sahabat karib Leonardo Da Vinci, sangat tertarik dengan gagasan Golden Section, sebuah proporsi atau rasio perbandingan yang ditemukan dalam sebuah Risalah Geometri “The Elemen” dari Euclid, seorang ahli matematika Yunani yang hidup di sekitar tahun 325 SM.

Luca Paccoli menuangkan hal tersebut dalam bukunya yang terkenal, “Divina Proportione”, atau The Divine Proportion ( Proporsi yang sangan baik ), atau juga sering disebut sebagai “The Golden Ratio”, dalam buku ini, Golden Section disebut-sebut sebagai prinsip-prinsip estetika yang dapat dijumpai dalam bentuk-bentuk arsitektural, dan tubuh manusia. Golden Section merupakan pembagian segmen baris sehingga rasio seluruh segmen ke bagian yang lebih besar adalah sama dengan rasio bagian yang lebih besar ke bagian yang lebih kecil. Rasio adalah sekitar 1,61803-1. Jumlah 1,61803 disebut “Golden Number”.
Golden section

Terlepas dari banyaknya rumusan-rumusan ataupun pemahaman proporsi bentuk yang ideal, seperti yang telah dirumuskan oleh banyak filsuf, ahli matematika dan geometri, bahkan seniman-seniman di masa lalu, antopometri dan ergonomi, pada akhirnya merupakan hasil dan sebuah bukti dari upaya-upaya besar mereka dalam memberikan andil terhadap berkembangnya pemahaman akan proporsi tubuh manusia sebagai tolak ukur atau landasan dalam perancangan ruang, bentuk dan pengembangan teknologi yang dibangun berdasar skala atau metrologi ukuran tubuh manusia.

Antropometri dan Ergonomi sebagai Pedoman  Perancangan Arsitektur/Interior

work area
Antropometri dan Ergonomi merupakan pedoman dalam proses perancangan pada industri berat maupun industri ringan, bahkan dalam proses perancangan busana sekalipun. Dalam perancangan arsitektur dan interior, antropometri dan ergonomic berperan penting dalam memberikan data-data dan informasi, sebagai dasar pertimbangan atau acuan mengenai jangkauan, dan interaksi, serta dinamika pergerakan dari variabilitas dan realibilitas ( berdasar kelompok umur, jenis kelamin, kelompok kegiatan,  kelompok pekerjaan, suku bangsa, maupun cacat tubuh ) dimensi dan fungsi tubuh manusia terhadap dimensi ruang ( perancangan area kerja/ruang dan bangunan ) beserta kelengkapan-kelengkapan yang berada di dalamnya ( perancangan system dan  alat-alat kerja ).

Tujuan utama dari penggunaan antropometri dan ergonomi adalah untuk mengurangi tingkat kelelahan bekerja, sehingga diharapkan akan meningkatkan perfomansi dan efektifitas kerja, serta meminimasi akan potensi terjadinya kecelakaan dalam bekerja, dalam hal ini sebuah system kerja atau dimensi kelengkapan kerja harus sesuai dengan variabilitas/realibilitas dimensi, fungsi, dan kemampuan kontinuitas gerak tubuh manusia dalam rentang waktu tertentu.

Pada tubuh manusia terdapat dua jenis dimensi yang mempengaruhi proses perancangan interior dan arsitektur, yang pertama adalah dimensi struktural atau statis, dalam hal ini mencakup dimensi pada bagian-bagian tubuh pada posisi diam atau statis, seperti posisi tubuh dalam keadaan diam, yang kedua adalah dimensi dinamik, yaitu dimensi pada saat fungsi-fungsi tubuh bekerja, atau ketika fungsi-fungsi tubuh bergerak dalam melakukan suatu kegiatan tertentu, maka dalam proses perancangan arsitektur dan interior akan terdapat suatu pendekatan dimensional, yaitu proses penyesuaian antara dimensi-dimensi ruang dan kelengkapannya dengan dimensi tubuh manusia dalam keadaan diam/statis maupun dalam keadaan bergerak/dinamis.

Oleh sebab itu, dalam proses perancangan arsitektur dan interior, kaidah-kaidah antropometri dan ergonomi sangat dibutuhkan sebagai salah satu aspek dari pendekatan perancangan yang bertujuan menjamin keamanan, keselamatan, dan kenyamanan interaksi dan kegiatan manusia tercapai dengan baik.

Sumber artikel dan gambar:
www.Wikipedia.org,  www.goldennumber.net, www.bl.uk.com
Dimensi Manusia dan Ruang Interior